INDOPOSCO.ID – Di tengah tantangan penurunan produksi dari lapangan migas konvensional yang kian menua, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mulai menggeser arah strateginya. Fokus kini diarahkan pada pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK), yang diyakini mampu menjadi tulang punggung baru ketahanan energi nasional.
Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, dalam forum energi bergengsi Offshore Technology Conference Asia 2026 di Kuala Lumpur.
Dalam pemaparannya, Arifin menegaskan bahwa perubahan lanskap industri migas menuntut langkah berani dan terukur.
“Dengan kondisi produksi lapangan tua yang terus menurun, pengembangan migas non-konvensional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis. MNK berpotensi menjadi game changer dalam memperkuat portofolio energi masa depan Pertamina sekaligus menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Arifin.
Langkah ini bukan tanpa dasar. PHR menemukan potensi besar di sub-cekungan North Aman, yang diperkirakan menyimpan hingga 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO). Angka ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu harapan baru yang selama ini belum tergarap optimal di Indonesia.
Tak hanya sebatas potensi, PHR juga telah membuktikan keberadaan hidrokarbon melalui pengeboran eksplorasi dengan metode horizontal dan uji alir. Hasil ini menjadi titik awal penting dalam membuka jalan pengembangan MNK di Wilayah Kerja Rokan.
Saat ini, perusahaan tengah memasuki tahap lanjutan melalui proses appraisal, dengan rencana pengeboran horizontal lanjutan dan penerapan teknologi multi-stage fracturing. Tahapan ini akan menjadi fondasi menuju pengembangan skala penuh.
Namun, perjalanan menuju MNK tidak sepenuhnya mulus. Arifin menyoroti bahwa tantangan terbesar justru datang dari faktor di atas permukaan.
“Tantangan terbesar MNK justru berada pada aspek above ground, mulai dari biaya investasi yang masih tinggi, dukungan regulasi dan fiskal yang kompetitif, hingga kesiapan infrastruktur dan penguatan kemampuan dan pengalaman. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan,” jelasnya.
Untuk itu, PHR menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, operator, dan mitra strategis demi menciptakan ekosistem MNK yang solid dan berdaya saing.
Secara roadmap, PHR telah menyusun tahapan pengembangan yang ambisius. Dimulai dari target kontrak bagi hasil (PSC) pada kuartal II 2026, dilanjutkan pengeboran appraisal di akhir tahun, hingga target produksi awal pada 2028. Pengembangan skala besar direncanakan berlangsung setelah 2030, dengan puncak produksi diproyeksikan pada 2037.
“Kami optimistis Indonesia siap beralih dari tahap pilot menuju pengembangan MNK yang terukur dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, MNK akan menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di masa depan,” tutupnya.
Dalam forum yang sama, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Awang Lazuardi, turut menegaskan bahwa energi hidrokarbon masih memegang peran vital di tengah meningkatnya kebutuhan energi global.
“Sebagai respons atas tantangan tersebut, PHE mengusung strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy. Pendekatan ini menggabungkan penguatan bisnis hulu migas dengan pengembangan energi rendah karbon,” jelas Awang.
Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, menyoroti pentingnya transformasi menuju energi berkelanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Melengkapi diskusi, Pertamina Drilling Services Indonesia melalui perwakilannya Ahmad Burhan Noviaris memaparkan penerapan Integrated Project Management (IPM) untuk meningkatkan efisiensi operasi. Dengan dukungan 57 rig dan lebih dari 110 layanan pengeboran, pendekatan ini dinilai mampu memperkuat daya saing industri hulu migas nasional.
Melalui langkah-langkah ini, PHR menegaskan posisinya sebagai motor transformasi sektor hulu migas, sekaligus membuka jalan bagi masa depan energi Indonesia yang lebih berkelanjutan. (her)








