INDOPOSCO.ID – Menjadi seorang perempuan yang menjabat sebagai Kepala Kantor Pertanahan di BPN Jakarta Barat, adalah sebuah tantangan sekaligus semangat bagi Shinta Purwitasari. Perempuan cantik asal Jogjakarta ini justru tidak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk meraih mimpi dan mengembangkan potensi diri. Meski harus bersaing dengan kaum laki-laki.
“Perempuan zaman sekarang harus mampu dan maju, memiliki jiwa yang pantang menyerah, tangguh dan bertanggungjawab. Tidak kalah dengan laki-laki,” ujar Shinta dalam sebuah perbincangan santai di kantornya di Jakarta Barat. Sebagai penerus cita-cita Kartini, menurut Shinta, perempuan harus ambil bagian dalam pembangunan bangsa dan negara.
Terlepas apapun profesinya.
Peraih gelar Doktor (S3) dari Universitas Trisakti ini mengaku poin penting untuk meraih mimpi dan cita-cita adalah melalui pendidikan. Dia bersyukur memiliki orangtua yang sangat support terhadap pendidikan anak-anaknya. Dia sendiri selepas SMA di Jogjakarta, mengambil kuliah dua jurusan sekaligus. Yaitu S1 Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) lulus tahun 2003 dan S1 Ilmu Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) yang lulus tahun 2004. Setelah itu, dia melanjutkan kuliahnya di program master (S2) Ilmu Hukum di Universitas Indonesia. Lalu ditutup dengan program S3 Universitas Trisakti di jurusan yang sama.
“Pendidikan adalah kunci,” ujarnya.
Sebelum memasuki dunia agraria dan pertanahan, Shinta sempat menjadi lawyer selama empat tahun. Namun pada April 2008 dia masuk ke Kementerian ATR/BPN sebagai staf di Kementerian. Karena berprestasi, posisinya terus naik mulai dari kepala seksi, kepala sub direktorat, kepala bagian hingga diangkat jadi Kepala Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan. Di BPN Tangsel ini, dia sempat menjadi Kasie Penetapan Hak dan Pendaftaran. Dan saat ini Shinta menjabat sebagai Kepala Kantor Pertanahan Kota Jakarta Barat.
Sebagai salah seorang penerus cita-cita Kartini di dunia agraria dan pertanahan, Shinta sadar bahwa masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dia lalui ke depannya.
Namun, itu tidak menjadi alasan baginya untuk tetap komitmen menjalankan program-program pengabdiannya kepada masyarakat, khususnya dalam menata dan mengatur pertanahan di Jakarta Barat.
Dalam dunia agraria, termasuk di dalamnya ada konflik dan sengketa tanah, publik masih menganggap bahwa urusan tersebut identik dengan laki-laki. Namun, itu tidak menjadi hambatan bagi dia sebagai seorang pemimpin di kantor pertanahan untuk turun dan menyelesaikan semua persoalan yang terjadi.
“Justru saya bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati, sejauh ini sebagai perempuan hal itu tidak menjadi hambatan bagi saya,” ujarnya.
Shinta yang juga mantan Kepala Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan ini mengaku bersyukur bahwa dia selalu diberi kelancaran dan kemudahan dalam menjalan program kerja yang dia susun, termasuk menjalankan instruksi dan program kerja dari Kementerian ATR/BPN.
“Jadi kita kaum perempuan harus menunjukkan bahwa kita mampu dan bisa melakukan sesuatu tidak kalah dengan laki-laki. Meski kita tidak harus melupakan kodrat kita sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri,” pungkas Shihta. (srv)








