INDOPOSCO.ID – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golongan Karya (Golkar) Bahlil Lahadalia berpendapat bahwa kondisi demokrasi saat ini sudah melampaui batas, yang pada akhirnya dinilai dapat merusak tata kehidupan bernegara.
“Menurut saya demokrasi ini kebablasan. Akhirnya apa? Merusak sendi-sendi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara,” kata Bahlil Lahadalia dalam sambutan Traning of Trainers Sosialisasi 4 Pilar MPR di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Ia menyayangkan perubahan kondisi sosial di masyarakat menjadi tidak harmonis pasca-Pilkada dan mengajak para kader Golkar untuk merenungkan kembali apakah cara-cara berpolitik seperti itu masih ingin dipertahankan.
“Tadinya kita duduk bicara di kampung bisa, sekarang habis Pilkada ribut orang di pinggir-pinggir. Ini Bapak Ibu semua. Nah pertanyaannya adalah, apakah kita mau lanjut dengan cara-cara ini?,” ujar Bahlil.
Lebih lanjut, ia menyinggung relevansi ikrar Pancasila dan UUD 1945 yang diusung Golkar, jika pada akhirnya mereka tetap mengambil langkah berisiko yang membawa mereka ke arah kehancuran secara kolektif.
“Katanya Golkar salah satu ikrarnya mengamalkan dan mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. Sudah tahu kita sudah masuk di lobang jurang, masih pula kita melompat jurang bersama,” kritik Bahlil.
Menurutnya, perlu ada kajian mendalam untuk menemukan metode yang sesuai dengan situasi saat ini. “Penting untuk kita merenung bersamalah. Kata Ebiet (penyanyi), tanyakan kepada rumput yang bergoyang,” ucap Menteri ESDM itu sambil tertawa.
Ia menekankan pentingnya bagi Fraksi Partai Golkar dan seluruh pihak menentukan langkah demokrasi yang paling tepat. Menurutnya, hal ini krusial jika ingin mengkaji persoalan tersebut dari sudut pandang demokrasi.
“Jadi karena itu menurut saya, Fraksi Partai Golkar, baik di DPR maupun MPR dan kita semua, harus merumuskan langkah demokrasi apa yang paling tepat dan layak. Ini menurut kalau kita mau kaji betul. Itu dalam konteks demokrasi,” imbuh Bahlil. (dan)

















