INDOPOSCO.ID – Universitas Budi Luhur (UBL) terus menegaskan langkahnya menuju kampus berkelas dunia. Dalam acara Stakeholder Durian Party sekaligus peluncuran logo hari ulang tahun (HUT) ke-47 UBL, Rektor UBL, Prof. Agus Setyo Budi menegaskan bahwa seluruh program dan kegiatan UBL kini diarahkan pada satu muara besar, yakni internasionalisasi dan kolaborasi global.
“Semua kegiatan kita itu dalam rangka internasionalisasi ke depannya. Jadi semua program-program kita nanti muaranya akan internasionalisasi,” ujar Prof. Agus ditemui INDOPOSCO di sela acara Stakeholder Durian Party sekaligus peluncuran logo HUT ke-47 UBL di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, berbagai aktivitas kampus—mulai dari seminar, konferensi, hingga kegiatan kemitraan—tidak lagi berdiri sendiri, melainkan dirancang untuk saling terhubung dan berdampak luas. UBL juga aktif memanfaatkan jejaring mitra internasional yang telah terbangun di berbagai negara seperti Jepang, Korea, India, Taiwan, dan Malaysia.
Salah satu contoh konkret kolaborasi global tersebut adalah pada bidang penelitian. Prof. Agus menjelaskan, UBL mendorong riset kolaboratif sejak tahap awal.
“Misalnya saya punya 20 proposal penelitian, saya presentasikan di Korea. Dari sana, peneliti Korea bisa bergabung. Sebaliknya, mereka juga presentasi, kita ikut. Dari 20 bisa jadi 40 proposal, lalu kita kemas dalam kerangka besar sebagai konferensi internasional,” jelasnya.
Tak hanya dosen, mahasiswa pun dilibatkan secara aktif dalam ekosistem global ini. Melalui kegiatan riset, konferensi, hingga program magang dan internship internasional, mahasiswa dipersiapkan agar memiliki kompetensi nyata saat lulus.
“Begitu mereka keluar dari Budi Luhur, yang ditanya itu bukan IPK saja, tapi kamu bisa apa?” kata Prof. Agus.
Dalam mendukung visi tersebut, UBL juga memperkuat kompetensi bahasa asing melalui lembaga bahasa kampus. Selain bekerja sama dengan British Council untuk bahasa Inggris, UBL juga mengembangkan pembelajaran bahasa Jepang, Korea, dan Mandarin, termasuk dengan mendatangkan native speaker dari universitas mitra luar negeri.
“Native speaker itu kita datangkan dari mitra kita, sekaligus sebagai bagian dari internship mahasiswa mereka. Jadi mereka PPL (Program Pengalaman Lapangan) nya di Budi Luhur,” katanya.
Di sisi branding internasional, UBL secara konsisten menggunakan nama Budi Luhur University (BLU) dalam berbagai aktivitas luar negeri. Langkah ini dinilai penting agar lebih mudah dikenali di kancah global, meski dalam dokumen formal seperti MoU tetap menggunakan nama Universitas Budi Luhur.
Sementara itu, peluncuran logo HUT ke-47 UBL juga sarat makna filosofis. Prof. Agus menjelaskan bahwa elemen utama dalam logo tersebut adalah simbol panah yang telah menjadi ciri khas sejak peringatan tahun-tahun sebelumnya.
“Simbol panah itu artinya kita menuju. Menuju target kita, yaitu kolaborasi global dan Go International,” ungkapnya.
Melalui pendekatan yang santai namun strategis—seperti Stakeholder Durian Party—UBL juga membangun kedekatan dengan mitra lokal, alumni, hingga institusi seperti BNI dan Bareskrim. Seluruh kegiatan dirancang agar memiliki multiple effect, mulai dari publikasi, penelitian, pendanaan, hingga dampak sosial melalui program CSR dan KKN terintegrasi.
Lebih lanjut, Prof. Agus menegaskan bahwa internasionalisasi bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang menuntut peningkatan kompetensi seluruh sivitas akademika.
“Dosen-dosen juga tidak bisa santai. Mereka mau sekolah lagi, mau upgrade pengetahuan, mau belajar bahasa, kita fasilitasi. Santai boleh saja, tapi kalau sudah waktunya kerja ya serius kerja,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan visi global yang konsisten, Universitas Budi Luhur optimistis menjadikan usia ke-47 sebagai momentum kuat untuk melangkah lebih jauh di panggung internasional. (her)











