INDOPOSCO.ID – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai dampak dari kombinasi masalah transparansi saham BUMN, peran Danantara, serta kebijakan likuiditas dan fiskal yang kurang optimal.
“Anjloknya IHSG tidak bisa dilepaskan dari isu transparansi kepemilikan saham BUMN, peran Danantara, suntikan likuiditas (Menteri Keuangan) Purbaya yang tidak efektif serta masalah pelebaran defisit fiskal,” kata Bhima Yudhistira kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Kepercayaan investor dikabarkan kian tergerus seiring dengan munculnya polemik independensi Bank Indonesia (BI) pasca-penunjukan Thomas Djiwandono sebagai deputi gubernur.
“Penunjukkan Thomas sebagai deputi gubernur BI ikut menambah polemik independensi BI yang menggerus trust investor,” ujar Bhima.
Ia menambahkan bahwa alih-alih menyalahkan faktor eksternal atau global, pemerintah seharusnya melakukan pembenahan internal untuk mengantisipasi potensi keruntuhan pasar yang diprediksi akan terulang.
“Tanda market crash akan berulang, dan solusinya adalah perombakan internal. Ini bukan soal faktor global, tapi masalah ada di dalam diri pemerintah,” ucap Bhima.
IHSG sempat merosot 718,44 poin atau 8,00 persen ke level 8.261,78 pada perdagangan Rabu (28/1/2026) siang, yang bikin perdagangan dihentikan sementara.
Penurunan tajam itu dipicu oleh aksi jual masif setelah adanya laporan terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks untuk saham Indonesia, yang menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan investor.
Kondisi serupa kembali terjadi hari ini, IHSG anjlok tajam pada awal perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung merosot 474,70 poin atau setara 5,71 persen ke level 7.845,85. (dan)







