INDOPOSCO.ID – Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan pelaksanaan peletakan batu pertama (groundbreaking) terhadap 18 proyek hilirisasi strategis nasional yang saat ini tengah dikaji Danantara Indonesia. Seluruh proyek tersebut ditargetkan mulai dibangun paling lambat Maret 2026.
Arahan itu disampaikan Presiden Prabowo dalam retret Kabinet Merah Putih yang digelar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, dari total 18 proyek hilirisasi tersebut, enam proyek telah diputuskan untuk melaksanakan groundbreaking pada Januari 2026.
“Presiden meminta agar sisa proyek lainnya dipercepat. Targetnya Februari, atau paling lambat Maret, seluruh 18 proyek sudah dilakukan groundbreaking,” ujar Prasetyo kepada wartawan.
Salah satu proyek utama yang akan dibangun adalah waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Proyek ini direncanakan dibangun di 34 titik yang tersebar di 34 kabupaten/kota, terutama di wilayah dengan timbunan sampah harian mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.
“Waste-to-energy akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau 34 titik yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari. Ini harus segera ditangani agar tidak menggunung dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan,” kata Prasetyo.
Pembangunan PSEL diharapkan tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menekan risiko kesehatan masyarakat serta menghasilkan sumber energi alternatif yang berkelanjutan.
Sebelumnya, pemerintah menyampaikan bahwa 18 proyek hilirisasi tersebut telah melewati tahap prastudi kelayakan dengan total nilai investasi diperkirakan mencapai Rp600 triliun. Realisasi investasi proyek-proyek strategis ini akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia.
Selain proyek PSEL, pemerintah juga akan segera melakukan groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi batu bara berkalori rendah yang diolah menjadi gas alternatif pengganti LPG.
“Gasifikasi batu bara menjadi DME ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG,” ujar Prasetyo.
Ia menambahkan, selain sektor energi, proyek hilirisasi yang dipercepat juga mencakup program-program di bidang pertanian serta sektor strategis lainnya.
Lebih lanjut, Prasetyo menegaskan Presiden Prabowo meminta seluruh kementerian dan lembaga untuk memperkuat koordinasi lintas sektor demi memastikan percepatan pelaksanaan program prioritas nasional pada 2026.
“Orientasi kerja harus sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Tidak boleh ada ego sektoral. Jika ada masalah, segera cari titik temu agar program tetap berjalan,” tegasnya.
Presiden juga menginstruksikan seluruh jajaran untuk bekerja cepat, cerdas, tidak normatif, serta berani berpikir out of the box guna menghadirkan terobosan dalam mempercepat pencapaian target pembangunan nasional. (dil)








