• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Demonstrasi Massal Cermin Kekecewaan Publik Selama 1 Dekade

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 31 Agustus 2025 - 10:52
in Headline
IMG-20250831-WA0042

Pengamat Politik Rocky Gerung. Foto: YouTube Rocky Gerung Official

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pengamat Politik Rocky Gerung menilai kericuhan dalam aksi demonstrasi di berbagai kota Indonesia bukanlah peristiwa yang muncul tiba-tiba. Menurutnya, gelombang protes yang berujung bentrokan itu merupakan akumulasi kekecewaan publik terhadap kondisi sosial ekonomi dan demokrasi dalam sepuluh tahun terakhir.

“Setiap peristiwa yang bersifat massal, yang menggerakkan orang banyak, pasti punya potensi kekerasan. Tetapi hak rakyat untuk berdemonstrasi tetap harus dijamin,” ujar Rocky dalam video di kanal YouTube-nya seperti dikutip, Minggu (31/8/2025).

BacaJuga:

KAI Klaim Program Motis Lebaran Dukung Kelancaran Mudik 2026

Pemerintah Siapkan SE Menteri Terapkan Pembelajaran Tatap Muka Pascalebaran

1,9 Juta Pemudik Tiba di Jakarta, Sisa 1,4 Juta Orang Masih di Perjalanan

Rocky menekankan, aturan dalam berdemonstrasi memang tidak boleh brutal. Namun, benturan demi benturan yang terus berulang menunjukkan adanya momentum atau pemicu yang tak bisa diabaikan. Ia menyebut, selain faktor spontanitas massa, ada pula persaingan elite politik yang kerap memanfaatkan momen protes.

“Lepas dari soal persaingan elit yang kelihatannya juga memanfaatkan momentum-momentum demonstrasi ini, kita mau coba bayangkan satu upaya untuk menghasilkan kembali negeri yang memungkinkan kita merasakan kenikmatan menjadi warga negara yaitu tidak ada rasa takut kalau mengucapkan pendapat,” jelasnya.

Lebih jauh, Rocky mengingatkan pentingnya mengembalikan ruang kebebasan sipil di Indonesia. Ia menilai, selama satu dekade terakhir, masyarakat seolah dipaksa untuk takut berpendapat karena ancaman Undang-Undang ITE.

“Nah ini kondisi yang bertahun-tahun tidak dihasilkan selama 10 tahun ini, seolah-olah berpendapat itu dihadang oleh undang-undang, karena itu akan ada penjara menunggu,” tuturnya.

Menurut Rocky, demonstrasi hari ini adalah “ledakan” energi yang lama tertahan. “Jadi, ledakan hari ini sebetulnya adalah akumulasi dari keadaan selama 10 tahun, di mana pemerintahan sebelumnya, yaitu Presiden Jokowi, menghalangi ekspresi dengan ancaman-ancaman yang sangat tidak masuk akal yaitu undang-undang ITE,” lanjutnya.

Leihlanjut, Rocky menyebut jika aksi unjuk rasa di sejumlah daerah terjadi bukan hanya karena represi terhadap kebebasan berpendapat, tetapi juga akibat frustrasi sosial yang ditimbulkan oleh kondisi ekonomi yang kian sulit.

“Dan sekarang itu seolah-olah outletnya terbuka sehingga orang tumpah kemarahannya (dengan demonstrasi) di jalan raya. Tapi lebih dari itu kita coba lihat juga bahwa ada frustrasi sosial sebetulnya yaitu keadaan ekonomi,” terangnya.

“Jadi jalan raya itu jadi semacam pertemuan antara gumpalan energi yang selama 10 tahun tertahan dan kondisi real (sebenarnya) masyarakat kita yang mengalami kesulitan ekonomi dan itu adalah keluhan demokrasi yang akhirnya berujung pada peristiwa tragis,” tambahnya.

Ketika ekonomi menjerat dan kebebasan dibatasi, jalan raya pun berubah menjadi panggung sejarah, tempat rakyat menuliskan kemarahannya. (her)

Tags: demodemonstrasijarah

Berita Terkait.

Sepeda-Motor
Headline

KAI Klaim Program Motis Lebaran Dukung Kelancaran Mudik 2026

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:42
Belajar
Headline

Pemerintah Siapkan SE Menteri Terapkan Pembelajaran Tatap Muka Pascalebaran

Kamis, 26 Maret 2026 - 09:00
1,9 Juta Pemudik Tiba di Jakarta, Sisa 1,4 Juta Orang Masih di Perjalanan
Headline

1,9 Juta Pemudik Tiba di Jakarta, Sisa 1,4 Juta Orang Masih di Perjalanan

Rabu, 25 Maret 2026 - 23:57
Menlu Jerman Dukung Inisiatif Diplomasi Trump untuk Akhiri Konflik dengan Iran
Headline

Menlu Jerman Dukung Inisiatif Diplomasi Trump untuk Akhiri Konflik dengan Iran

Rabu, 25 Maret 2026 - 23:45
Kasus Penyiraman Aktivis KontraS, Jabatan Kabais Letjen Yudi Abrimantyo Dicopot
Headline

Kasus Penyiraman Aktivis KontraS, Jabatan Kabais Letjen Yudi Abrimantyo Dicopot

Rabu, 25 Maret 2026 - 23:24
Kakorlantas Sebut Mudik 2026 Nihil Insiden Menonjol di Tengah Laka Maut Tol Pejagan
Headline

Kapolri: Arus Balik Lebaran 2026 Terkendali, Puncak Kedua Diprediksi 28–29 Maret

Rabu, 25 Maret 2026 - 23:14

BERITA POPULER

  • Kekuatan Kolaborasi Tumbuhkan Penghimpunan Ramadan 1447 H Dompet Dhuafa Lampaui 15%

    Jelang FIFA Series, Jay Idzes Bocorkan Atmosfer Baru Timnas Indonesia

    979 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Lebaran 2026, Kakorlantas: Lalu Lintas Terkendali Meski Mobilitas Tinggi

    978 shares
    Share 391 Tweet 245
  • Kasus Andrie Yunus, Amnesty Singgung Warisan Jokowi dan Ancaman Otoritarianisme

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • BPN Jawa Barat Instruksikan Seluruh Kantor Pertanahan Buka Selama Cuti Bersama

    2676 shares
    Share 1070 Tweet 669
  • Rehabilitasi Pascabencana Sumatera, Tito Minta Daerah Aman Bantu Daerah Rusak Parah

    739 shares
    Share 296 Tweet 185
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.