INDOPOSCO.ID – Pelaku kasus terorisme dengan melibatkan perempuan terus meningkat jumlah. Dari dua kasus yang menggegerkan belakangan ini adalah kasus bom bunuh diri di depan gereja Katedral, Makassar dan aksi penyerangan di Mabes Polri.
“Pergeseran pelaku teror oleh perempuan bukan saja disebabkan oleh faktor psikologis saja. tapi karena kekuatan geopolitik,” ujar Psikolog Klinis Forensik Casandra Putranto melalui gawai, Minggu (4/4/2021).
Menurut dia, kelompok-kelompok terorisme ini merekrut melalui media sosial. Dan ini sangat membantu mereka. Kemudian mereka menanamkan rasa kebencian kepada kelompok tertentu yang berbeda. “Ini sudah menyebar, tidak hanya merekrut secara kelompok juga individual,” katanya.
Kelompok-kelompok ini selanjutnya, dikatakannya akan berafiliasi dengan kelompok-kelompok tertentu. Demikian pola yang individual akan bergabung.
“Dulu jihad itu laki-laki. Tapi ketika ada kekuatan yang memperbolehkan perempuan atau anak melakukan jihad, ini kemudian yang ditiru. Apalagi ada bumbu-bumbu wajib atau harus,” ungkapnya.
Ia mengatakan, kelompok teroris tersebut tidak hanya melakukan propaganda, tetapi juga memberikan janji-janji atau bumbu-bumbu kebencian yang membuat anggota takut. Seperti janji apabila tidak ikut berjuang akan mati jahiliyah dan lainnya.
“Jadi saat seseorang bergabung tidak hanya janji-janji, tapi ada reward positif juga ada reward negatif,” terangnya. (nas)








